Rabu, 21 September 2016

Future Media Comunication

pada tangal 20 sebtember 2016 kami kembali kedatangan dosen tamu yang bernama Pak Kukuh Sanyato. beliau kelahirab tahun 62 tahun silam pernah berkerja di stasiun televisi ternama RCTI dan CNN dan beliau basic nya adalah ahli IT pada masa awal dia kuliah di luar negri tetapi ketika beliau pulang ke negri tercinta ternyata belum ada kompiuter/cpu di indonesia. tak kehabisan akal beliau melamar menjadi wartawan dan setelah beberapa lama dia berkerja sebagai wartawan muncul lah komputer/cpu pertama di indonesia yang di miliki oleh bank suasta saat itu menurut beliau beliau adalah kandidat utama pada saat melamar berkerja di bank suasta tersebut karena pertama kakak beliau adalah orang dalam orang tersebut kedia semua buku panduan yang ada di cpu tersebuat di buat dalam bahasa spanyol yang beliau kuasai dan pada zaman itu bisa di bilang sangat langkah orang yang bisa mengoprasikan cpu di terima lah beliau di bank tersebut tapi naas nya beliau berhenti dua hari setelah di terima berkerja karena beliau tidak betah dan alasan utama beliau sudah suka dunia wartawa walau gaji nya lebih kecil

setelah bercerita panjang mengenai pengalaman hidup nya beliau pun masuk kepada topik pembelajaran beliau mengatakan dulu komunikasi berkembang secara linier yang dimaksud 1 ke 2 ,2 ke 3, dan 3 ke 4 dan seterus nya tetapi dengan ada di zaman internet semarphone dan lain lain yang membuat lonjakan besar dari yang tadi nya seharus nya 8 ke 9 perkembangannya tetapi dengan jaman sekarang 8 ke 16 , 16 ke 32 ,32 ke 64 dan seterus nya. beliau juga mengatakan manusia adalah bagian dari komunikasi bukan sebaliknya karena sejak awal manusia lahir sudah berkomunikasi contoh nya pada saat kita bayi kita akan menangis jika lapar atau mau buang air sesuatu komunikasi yang kita lakukan kepada orang tua kita yang akan terus berkembang. beliau juga mengatakan semua yang bisa di digitalisasi akan menjadi bagian dari future.

Akhir kata Pak Kukuh memberikan sebuah wejangan, "To change the map is easier than to map change". Untuk mengubah peta lebih mudah daripada memetakan peta. Pak Kukuh mengatakan beliau tidak tahu berapa banyak orang kreatif yang melakukan perubahan, pasti ada anak-anak yang kreatif. Adanya perubahan yang terciptanya peluang.
"A future is bring New Challenges"


Postingan ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah kapita selekta di
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara (FIKom UNTAR)
kelompok 3 yang berangotakan:
Frans Giovanni/915130123
Jason Montana/915130104
Robby Tirta/915130105
Roderick/915130149
Tjam Robby/915130121
Nikky/915130122

Rabu, 14 September 2016

Media Lama dan Media Baru

Pada pertemuan yang dilaksanakan tanggal 13 September 2016, Bpk Irwan Julianto selaku dosen tamu dalam mata kuliah kapita selekta menjelaskan tentang Media Lama dan Media Baru dari sisi jurnalis. Menurut beliau yang berlatar belakang sebagai mantan jurnalis kompas, media dibedakan menjadi 2 yaitu media konvensional (buku, koran/majalah, radio, televisi, film) dan new media (berbasis internet).
Menurut beliau media berfungsi sebagai sumber informasi, edukasi, hiburan dan membentuk opini publik. Kontrol sosial yang lebih lazim disebut sebagai “The Fourth Estate” atau Pilar Demokrasi Keempat dimana ini merupakan faktor pembentuk opini.
Salah satu wujud media baru adalah media sosial, yaitu media yang isinya diciptakan dan didistribusikan lewat interaksi sosial (Straubhaar et al., 2012)

Saat ini masyarakat Indonesia termasuk salah satu pengguna media sosial yang tertinggi di dunia. Dengan adanya media sosial, media lama semakin terkikis. Akan tetapi tidak dipungkiri di media baru juga terdapat nilai negatif yaitu Manipolator Media yang bersifat Subjektif atau pun memihak.


Postingan ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah kapita selekta di
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara (FIKom UNTAR)
kelompok 3 yang berangotakan:
Frans Giovanni/915130123
Jason Montana/915130104
Robby Tirta/915130105
Roderick/915130149
Tjam Robby/915130121
Nikky/915130122

Selasa, 06 September 2016

Jurnalisme dan konvergensi media

Pada tangal selasa 6 sebtember 2016 kelas kembali kedatangan dosen tamu. di kelas kapita selekta beliau adalah rifa nadia nurfuadah yang, berkerja di redaktur okezone.com. kali ini beliau membahas Jurnalisme dan konvergensi media, bahwa menurut beliau semua media memanfaatkan semua multi platform. yang ada karena menurut beliau semua kalangan masyarakat mengunakan media online dan tidak sedikit media cetak sudah gulung tikar karena tidak mampu bersaing.

Dan Indonesia juga bisa di katakan sangat berpartisipasi dalam perkembangan media online yang sekarang. dan menurut beliau sekarang media tidak hanya milik jurnalis dan media tetapi punya gadget internet dan lain-lain. dan sejak muncul konvergensi media muncul lah citizen jounalizem yang berkembang sangat cepat karena masyarakat dapat memberikan informasi tampa harus menjadi jurnalis konvensional .

Dan sejak ada nya konvergensi media terjadinya tsunami informasi. karena terlalu banyak informasi orang jadi bingung tentang informasi tersebut yang pertama pasti orang banyak mempertanyakan kebenaran nya. karena informasi yang sekarang dapat di post atau upload dari orang biasa yang verifikasi berita nya masih diragukan dan beliau juga membahas di era konvergensi ini jurnalis tidak bisa hanya menguasai satu skill tetapi harus multi skill harus bisa fotografer menulis membuat tanyagan video dan lain lain. dan karena era konvergensi media ini banyak lapangan kerja yang terbuka.


Postingan ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah kapita selekta di
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara (FIKom UNTAR)
kelompok 3 yang berangotakan:
Frans Giovanni/915130123
Jason Montana/915130104
Robby Tirta/915130105
Roderick/915130149
Tjam Robby/915130121

Nikky/915130122

Kamis, 01 September 2016

Keberpihakan vs objektivitas

Pada pertemuan kedua di kelas kapita selekta pada tangal 30 agustus 2016 ini, kelas kami kedatangan dosen tamu yang bernama asca leonardi. beliau adalah lulusan s1 mustofo dan s2 umpat, yang beliau bahas di kelas adalah keberpihakan vs objektivitas.

Lalu beliau bertanya kepada kelas “keberpihakan pers boleh tidak?” kelas terdiam, dan beliau pun akhir nya menjelaskan. singkatnya karena semua berita memalui proses yang panjang yang tidak akan terlepas dari keberpihakan. contoh skala kecil nya “wartawan?” ya wartawan karena wartawan ada dalam bagian dari proses pembuatan iklan. jika wartawan adalah manusia, dan manusia pasti mempunyai latar belakang, yang akan membentuk atau mempengaruhi sikap dan kepribadaiannya. contoh nya jika saya wartawan bola dan saya mengidolakan “messi” maka pasti saya akan memberikan berita yang bagus-bagus tidak mungkin saya menjelek-jelekan tentang messi tersebut.

Dan Beliau balik ke topic pertama tadi, dan mulai bertanya ke kelas “jadi keberpihakan pers boleh tidak”? iya pasti. dan beliau kembali bertanya “keberpihakan apa yang benar?” dan beliau menjawab keberpihakan yang benar adalah keberpihakan yang berpihak pada kebenaran. kebenaran seperti apa? Kebenaran yang menciptakan rasa aman yang tumbuh pada diri seseorang. inilah intisari sebuah berita dan apa si fungsi berita tersebut? Yang pertama menandai suatu peristiwa atau membuat orang sadar akan hal itu, kedua menerangkan fakta-fakta tersembunyi atau menghubungkan satu sama lain dan membuat sebuah gambaran realitas

Namun beliau mengatakan yang parah di era ini adalah subjektivitas yang sudah terang-terangan terlihat terhadap orang awam dan membuat media kehilangan kredibilitasnya dan parah nya lagi pemerintah tidak bisa mengintervensi media jadi kita sebagai mahasiswa harus bisa memilah-milah kembali dan mengolah kembali berita yang kita dapat dari media.




Postingan ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah kapita selekta di
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara (FIKom UNTAR)
kelompok 3 yang berangotakan:
Frans Giovanni/915130123
Jason Montana/915130104
Robby Tirta/915130105
Roderick/915130149
Tjam Robby/915130121

Nikky/915130122